Jun 12, 2009

Bambang Rudjito : Kaca Ukir Bekas Pelaut

Kaca Ukir Bekas Pelaut
Oleh : Djoko Poernomo

Pendidikan menengah H Bambang Rudjito tak ada hubungannya sama sekali dengan profesi sekarang atau pekerjaan terdahulu pada dekade 80-an.

Tetapi, karena kecerdikan membaca peluang sekaligus memanfaatkan kesempatan yang ada, bapak dua anak kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, tahun 1952, ini 15 tahun terakhir menjadi juragan sekaligus pengusaha sukses di bidang seni kaca ukir, kaca patri, dan aneka barang suvenir dari kaca.

Suami Dewi Retnosari Wijayanti ini lulusan Sekolah Teknik Menengah Migas, Cepu, tahun 1970. Namun, "ilmu" di bidang seni kaca tadi tak diperolehnya di Indonesia, melainkan di Sinaloa, Meksiko, saat ia menjadi pelaut di kapal pesiar supermewah MS Tropicale.

Di sela-sela off time dari kapal, Rudjito mempelajari seni kaca ukir dan berhasil mengembangkan di Indonesia. Tak kurang dari 96 orang, sebagian alumni Institut Seni Indonesia, kini bekerja di bengkel Rudjito seluas 3.000 meter persegi di Desa Manang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sebelum berprofesi sebagai pelaut, Rudjito bekerja di bagian Telekomunikasi Kantor Pertamina, Jakarta, kemudian pindah ke Kantor Patrajasa, Anyer, Banten. Tak betah di situ, ia banting setir menjadi pelaut. "Saya tak ingin terus-menerus menjadi kopral," katanya beralasan.

Kepulauan Karibia

Pertama kali melaut bersama perusahaan Holland American Line dengan home port di Miami, Amerika Serikat, lalu di Alaska Cruise dengan home port di Vancouver, Kanada, dan terakhir di kapal MS Tropicale milik perusahaan Carnival Cruise Line yang ber-home port di Los Angeles, Amerika Serikat, dengan rute keliling Kepulauan Karibia.

Bukan Bambang Rudjito kalau gampang menyerah. Di sela-sela tugasnya sebagai cabin steward di kapal itulah ia mempelajari seni kaca ukir atau cermin digravir di Meksiko bersamaan dengan dipindahnya rute keliling kapal dari Kepulauan Karibia ke Teluk Meksiko. "Seni suku Indian Aztec sangat dominan sekali, terutama sentuhan-sentuhan pada cendera mata. Tiba-tiba ada daya tarik kuat yang membuat saya ingin lebih jauh mempelajari karya-karya setempat," katanya.

Maka, setiap ada kesempatan, Rudjito yang lulus SMP di Bojonegoro tahun 1967 itu mempelajari cendera mata asli Meksiko meski off time dari kapal hanya empat jam. "Yang tiga jam saya habiskan untuk melihat galeri, museum, dan interior design, terutama di hotel atau rumah makan yang saya kunjungi," ungkapnya. Ini sekaligus sebagai pembunuh suasana jenuh bekerja di kapal secara terus-menerus.

Pada suatu hari Rudjito masuk ke sebuah rumah makan di hotel di Mazatlan, Sinaloa, Meksiko. Di sini ia melihat satu seni kaca ukir yang menakjubkan. Kaca ukir ini bergelantungan di plafon serta menghiasi sekeliling dinding lobi di rumah makan itu.

"Sambil berangan-angan bagaimana membuatnya, saya tetapkan satu hari dalam seminggu mendatangi hotel tersebut," katanya. Ia bertambah mantap lagi mempelajari seni kaca ukir setelah menemukan showroom di kota yang sama. Atas seizin pemilik showroom, ia diperbolehkan belajar teori teknik pembuatan sampai dengan desain-desainnya pada setiap hari Kamis selama dua jam. "Dua tahun rasanya sudah cukup untuk mendalami teknik kaca ukir," kata Rudjito yang kursus di Sinaloa tahun 1987-1989.

Memilih Solo

Tahun 1989 ia melepaskan "jabatan" selaku cabin steward di MS Tropicale dan pulang ke Indonesia sekaligus memilih Kota Solo sebagai tempat tinggal. "Solo adalah gudang seniman-seniman besar. Dan dugaan saya tidak meleset," lanjutnya.

Tepat satu tahun setelah beradaptasi di Solo, tanpa disangka ia bertemu Masrikan, seniman kaca ukir di bengkelnya di Gremet, Manahan, Solo. Tetapi, usaha Masrikan "hidup segan mati pun tak mau" mengingat tak ada satu anggota keluarga pun yang bersedia meneruskan usaha itu.

"Tenaga yang semula dipakai Pak Masrikan saya ambil. Saya memberanikan diri memulai usaha menggunakan modal hasil tabungan selama bekerja di kapal. Usaha tepatnya dimulai 28 September 1989 dan berkembang hingga sekarang," ungkap Rudjito. Pada tahun-tahun pertama, foto-foto produk disebar di Jakarta secara door to door disusul lewat dunia maya. Pameran pun digelar baik di dalam maupun di luar negeri.

Selain memenuhi pasar lokal, produk dengan merek dagang Rudjito Glass & Craft berupa venetian mirror, glass work, dan souvenir itu juga diekspor ke Inggris, Perancis, Arab Saudi, Lebanon, Australia, dan Amerika Serikat.

Bambang Rudjito yang tak memiliki darah seni, kecuali gemar membuat sketsa gambar, menspesialisasikan diri pada seni kaca ukir. Dalam perkembangan kemudian, seni itu berkembang menjadi seni kaca patri, pembuatan barang-barang seni untuk suvenir yang keseluruhan terbuat dari kaca, serta berpatungan dengan mitra kerja di usaha mebel. Khusus usaha yang disebut terakhir menempati areal seluas 6.000 meter persegi dengan lokasi tak jauh dari bengkel kerja seni kaca ukir.

Ia mengakui, meski "hanya" mengandalkan teknik gravir, seni kaca ukir memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sebelum barang dilempar ke pasar, katanya, harus melewati 10 tahap pengerjaan.

Sebegitu jauh, Rudjito tak bersedia merinci omzet usaha— apalagi disebut miliarder—kecuali mengungkap harga produk antara Rp 25.000 dan Rp 600.000 per unit, sesuai dengan ukuran kaca serta tingkat kesulitan dalam memproses. Sekarang sebanyak 22 mitra usaha kecil ia bina.

Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks