Jun 26, 2009

Asma Barlas : Membaca Asma Barlas

Membaca Asma Barlas
Oleh : Maria Hartiningsih

MODEL pembacaan adalah subyek yang sangat serius dalam agama karena dapat digunakan untuk meminggirkan, menindas, dan menciptakan prasangka, bahkan kebencian, pada perempuan dan kelompok yang dianggap ”lain”.

Dr Asma Barlas (55) menyebutnya ”reading patriarchy”. Intelektual feminis Muslim dari Ithaca College, AS, itu mengatakan, setiap pemaknaan terkait dengan pemahaman teks kitab suci oleh masyarakat penafsir.

Ia menyodorkan cara membaca Al Quran yang membebaskan perempuan dalam bukunya, Believing Women in Islam: Unreading Patriarchal Interpretations of the Qur’an (2003). Karya itu merupakan penghargaan pada keimanannya; sebuah buku yang ia tulis dengan penuh cinta, terutama dalam menempuh perjalanan spiritualnya sebagai perempuan Muslim.

Mengikuti pendahulunya, Amina Wadud, Riffat Hassan, dan Fazlur Rahman, Barlas tampaknya tidak membiarkan kecenderungan penguasa (di tingkat apa pun) untuk memenangkan bacaannya dan mengalahkan bacaan yang lain.

Mengutip sejarawan Islam asal Algeria, Muhammed Arkoun, Barlas mengatakan, teks suci seperti Al Quran sering kali dicabut dari konteks sejarah, kebahasaan, sastra, psikologi, dan secara terus-menerus direkonstektualisasikan dalam berbagai kebudayaan dan kebutuhan ideologis para pelakunya yang beragam.

Karena itu, perlu menguji siapa saja yang membaca teks Al Quran secara historis dan bagaimana mereka membaca; bagaimana memilih epistemologi dan metodologi (hermeneutika), peran masyarakat penafsir dan negara dalam membentuk pengetahuan serta otoritas keagamaan yang memungkinkan mereka menerapkan bacaan Al Quran yang patriarkis.

Cara membaca yang diajukan Barlas memperkuat dan membuktikan tesisnya tentang karakteristik egalitarianisme dan antipratriakhalisme dalam Islam.

KUNJUNGAN Dr Asma Barlas ke Indonesia selama 20 hari atas undangan International Center for Islam and Pluralism (ICIP) bukan dimaksud untuk mempromosikan bukunya. Namun segenap pemikirannya dalam buku itu ia bagikan dalam berbagai diskusi dengan aktivis dan intelektual di Jakarta.

Ia tampaknya juga menggunakan ceramah-ceramahnya untuk menyebarkan nilai-nilai kesetaraan dalam Islam yang ia maknai sebagai saling memahami, saling menghormati; nilai-nilai yang mengagungkan perdamaian dan cinta kasih terhadap sesama. Membaca Barlas adalah membaca wajah Islam yang teduh.

Barlas menyepakati pandangan bahwa bukan agama yang melahirkan ektremisme, fundamentalisme, konservatisme, atau apa pun namanya, yang mengedepankan ketidaksetaraan, kekerasan, dan kebencian.

”Muaranya adalah ketidakadilan politik, ekonomi, dan sosial,” ujar Barlas, yang ditemui selama 1,5 jam di kantor ICIP Jakarta, Kamis siang. Agama dijadikan ideologi yang mengesahkan kekerasan untuk melawan semua itu.

Barlas adalah perempuan pertama di Departemen Luar Negeri Pakistan tahun 1976. Ia dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya tahun 1983 oleh rezim militer karena terus menyuarakan perlawanannya terhadap berbagai kebijakan di negerinya. Ia mendapat suaka politik di AS, lalu menyelesaikan MA dan PhD-nya di bidang kajian internasional dari Universitas Denver di Colorado.

Memasukkan seksisme, ketidaksetaraan, dan kekerasan serta teori-teori yang memberikan privilese kepada laki-laki dan kepada golongan tertentu, menurut Barlas, berarti mengorup gambaran kita tentang keadilan dan kebaikan Allah.

Karena itu, praktik-praktik penindasan seperti ’honor’ killing, dan mutilasi alat kelamin perempuan yang terus berlangsung dalam masyarakat di banyak negara, dikatakannya, lebih berkaitan dengan tradisi tribal.

”Tidak ada kaitannya dengan Islam,” tegasnya. ”Membunuh anak perempuan karena dianggap menodai ’kehormatan’ keluarga adalah kriminal. Negara harus mencegahnya!”

Berbagai praktik ’budaya’ lain, seperti pengecilan kaki dan dada, pembakaran istri, sistem mahar (dowry) dan perkosaan telah menggunakan tubuh perempuan sebagai ’medan pertempuran’ dalam situasi ’damai’. Tubuh perempuan, menurut Barlas, juga menjadi ’site struggle’ bagi moralitas, pemaknaan dan kekuasaan dalam fenomena fundamentalisme.

”Setiap ideologi memiliki dua sisi,” ia mengingatkan. Sisi gelap ideologi nasionalisme diperlihatkan Hitler ketika melakukan pemurnian rasial dengan mengesahkan pembunuhan massal terhadap ras lain. Barat mengesahkan perbudakan demi ideologi sekuler rasial mereka. Kita menyaksikan kekejian luar biasa akibat keyakinan pada ideologi tertentu dari kelompok-kelompok etnis dan agama.

”Identitas perempuan sangat rentan dimanipulasi untuk kepentingan ideologi,” tegasnya.

Dalam pemahaman Barlas, perbedaan biologis perempuan dan laki-laki tidak menyebabkan mereka berbeda secara etika dan moral. Keduanya memiliki kapasitas yang sama sebagai agen moral dan mengemban tugas-tugas kemanusiaan yang tidak berbeda.

BARLAS menghabiskan hari-harinya di Ithaca, yang ia katakan ”muram pada musim dingin, tetapi sangat indah pada musim panas dan musim gugur”.

Negeri keduanya, AS, memberi kebebasan padanya. Tetapi ia merasa hak-hak hukum dan kebebasan sipil kelompok minoritas di AS ditarik kembali dengan diterbitkannya Patriot Acts. ”Semakin banyak kelompok di AS yang mengkritisi peraturan itu,” ujar teman baik intelektual feminis Zillah Eisenstein, dan mengaku secara intelektual ”berutang” pada Amina Wadud itu.

Ia memuja almarhum ayahnya, Iqbal Barlas, dan ibunya, Anwar Barlas, yang kini bermukim di Vancouver, Kanada. Keduanya mendidik tiga anak perempuan serta satu anak laki-lakinya secara setara dan membukakan mata mereka akan ilmu pengetahuan yang tak berbatas.

”Saya mendidik anak laki-laki saya, Demir, seperti orangtua saya mendidik saya. Saya bahagia punya menantu yang memiliki dirinya sendiri,” katanya.

Ia percaya, perubahan lebih cepat terjadi kalau orangtua mendidik anak-anak mereka secara setara sebagai manusia, bukan sebagai anak perempuan atau anak laki-laki. Nah! (maria hartiningsih)

Sumber : Kompas, Sabtu, 25 Juni 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks