May 31, 2009

Subandi Suponingrat : Empu Bandi Setia kepada Tradisi

Empu Bandi Setia kepada Tradisi
Oleh : Windoro Adi

Di Pulau Jawa, mungkin tinggal Empu Kanjeng Raden Tumenggung Subandi Suponingrat yang masih setia kepada tradisi dalam proses pembuatan keris, yaitu dengan ritual dan sesaji seperti yang dilakukan para empu pada masa lalu.

Dia, misalnya, masih berpantang membuat keris pada Kamis Wage. "Menurut guru saya, Empu Yosopangarso, kakak kandung mendiang Empu Djeno Harumbrodjo, Kamis Wage adalah hari meninggalnya Empu Lanang. Siapa itu Empu Lanang, saya tidak tahu. Saya hanya ingin menghormati guru saya," tutur empu pembuat keris yang populer dipanggil Empu Bandi (50) ini.

Setiap menerima pesanan untuk membuat keris, setelah si pemesan datang kepadanya, ia akan meminta si pemesan untuk berpuasa dengan caranya sendiri.

"Saya menyarankan kepada pemesan agar kelak dia menggunakan keris yang saya buat untuk tujuan mulia. Antara lain untuk memperkokoh jati dirinya sebagai orang Indonesia, menimbulkan cinta dan kebanggaan dia akan budayanya sendiri, dan bersikap ksatria. Berani mengalah untuk tujuan yang lebih mulia, menghormati orang yang lebih tua, jujur terhadap diri sendiri, rendah hati, berani menghadapi risiko, dan pantang mengemis," paparnya.

Bandi sendiri juga berpuasa dan berdoa selama tiga hari. Tujuannya untuk membersihkan hati dan pikiran dari segala nafsu duniawi. Seusai berpuasa, keluarganya menyiapkan sesaji dan dupa. Isi sesaji antara lain jajan pasar, sega rasul (nasi gurih, ingkung ayam, kedelai hitam, ketimun), pisang ayu, sirih ayu, bubur merah-putih, hitam, dan kuning. Warna-warna itu simbol kekuatan empat unsur, yaitu api, besi, bumi, dan angin.

Ia mengingatkan, apa yang dia lakukan dan warisi dari Empu Yoso sebenarnya merupakan sarana untuk mendapatkan konsentrasi dan stamina fisik yang prima saat hendak membuat keris. Dengan demikian diharapkan, selain indah dan kuat, keris yang dia buat nanti juga memiliki bobot yang tepat sesuai dengan "standar" tosan aji alias keris.

Tidak banyak memang empu sekarang ini yang mampu membuat keris dengan standar yang tepat. Selain karena ketika membuatnya tidak dalam kondisi prima, dia juga tidak memiliki pengetahuan cukup mengenai standar membuat keris serta dhapur (pengetahuan tentang bentuk keris beserta rincian bagian-bagiannya).

Setiap bulan Empu Bandi rata-rata mampu mengerjakan dua bilah keris, baik untuk keris yang berpamor miring/rekan (bentuk pamor yang direncanakan) maupun keris yang berpamor mlumah/tiban (pamor yang dibiarkan terbentuk sendiri dalam proses penempaan). Untuk membuat keris berornamen seperti pada keris ber-dhapur Nagasasra, Panji Kuda, Lar Monga, atau Singa Barong, dia membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Untuk keris tanpa ornamen, ia memasang harga sekitar Rp 5 juta, sedangkan untuk keris berornamen mulai dari Rp 15 juta sampai Rp 25 juta.

"Harga pembuatan keris itu tergantung dari kadar emas yang digunakan, banyaknya emas, serta intan yang terpasang pada bilah keris tersebut," ungkapnya.

Menganggur

Kecintaan Bandi akan keris berawal ketika ia mengalami masa sulit. Seusai menyelesaikan pendidikan pada sekolah teknik menengah di Solo, Jawa Tengah, dia menganggur karena tak punya biaya untuk meneruskan ke sekolah lebih tinggi.

Tak ingin berpangku tangan, Bandi berusaha mencari kerja. Oleh rekannya, dia disarankan melamar ke Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo. Tahun 1979, mulailah Bandi bekerja di ASKI Solo.

Kebetulan saat itu keris tengah marak dan jadi perbincangan di Jawa Tengah, terutama di Solo dan Yogyakarta. Budaya keris bangkit kembali. Suasana ini antara lain dipicu oleh kehadiran Dietrick Dresser, seorang nakhoda asal Jerman, yang tengah berlabuh di Surabaya. Dia merasa terpesona sewaktu melihat sebuah pisau bermotif yang belakangan dia ketahui sebagai keris.

Didorong rasa ingin tahu untuk lebih jauh mengetahui tentang keris, Dresser lalu berkeliling Indonesia. Di tengah perjalanan itulah ia "menemukan" Empu Yosopangarso.

"Dia yang kembali membangkitkan semangat Empu Yoso (panggilan Yosopangarso). Kalau saya tidak salah ingat, Pak Dresser juga membuatkan besalen (tempat dan perangkat pembuatan keris) buat Empu Yoso," tutur Bandi.

Ketika nama Empu Yoso sebagai pembuat keris mulai "berkibar", Bandi ditawari belajar menjadi pembuat keris di tempat Empu Yoso, di Kampung Jitar, Godean, Yogyakarta. Di tempat itu, selama satu setengah bulan, ia belajar mencampur bahan, menempa, dan lebih banyak mengamati cara kerja Empu Yoso.

Tahun 1982, ketika ASKI Solo menerima pegawai baru, dibuatlah besalen di ASKI. Bandi dan dua pegawai baru belajar bersama membuat keris. Tiga tahun setelah itu, Bandi mulai menguasai teknik dasar membuat keris.

"Sampai sekarang saya masih belajar, karena filosofi dunia perkerisan itu adalah belajar sampai ajal datang. Membuat keris yang sama dhapur dan pamornya bukan berarti mengulang pekerjaan yang sama, sebab dalam setiap karya itu terjadi proses penyempurnaan yang terus berkembang. Itu juga yang dilakukan Empu Pangeran Sendang Sedayu," paparnya tentang empu pembuat keris yang legendaris pada zaman Majapahit sekitar abad ke-12.

Gaya PB IX

Tahun 1997, atas bantuan seorang pencinta budaya Jawa asal Jepang, Michio Nagawa, dan juga Dresser, Bandi membuat besalen sendiri di rumahnya di Kampung Banaran, Kelurahan Ngringo, Kecamatan Njaten, Karanganyar, Solo.

"Saya terharu dan rasanya ingin menangis melihat besalen dan seisinya ada di belakang rumah saya. Dulu, saya kira ini cuma impian saya saja, bisa memiliki besalen sendiri," ujarnya mengenang.

Mendapat kesempatan yang baik ini, Bandi kian gigih menyempurnakan gaya dalam karyanya. "Saya mulai lebih khusus mendalami gaya keris pada zaman PB (Paku Buwono, Raja Surakarta) IX dan PB X. Saya menilai, gaya PB lebih kelihatan kokoh dan indah. Greneng pada bagian belakang ganja bentuknya mengembang seperti burung merak sedang menari," tuturnya.

Dalam pandangan Bandi, keris bergaya Majapahit terlalu kecil dan sederhana, sedangkan keris era Sultan Agung (Raja Mataram) terlalu ramping. Keris era Kerajaan Segaluh luk-nya (lekukan pada tubuh bilah keris) terlalu landai. "Bagian ganja-nya pun nggededer (kepanjangan)," paparnya.

Bandi buru-buru menambahkan, "Tetapi, ini sebenarnya masalah selera saja. Kalau selera saya, ya, PB IX dan PB X."

Untuk dhapur, ia menyukai dhapur Sinom Robyong dan Pasopati, sedangkan untuk pilihan pamor, ia menyukai pamor largangsir dan wengkon atau tepen.

Tahun 2003 Bandi mendapat gelar dari PB XII karena kemampuannya membuat keris. Awalnya dia mendapat gelar Raden Tumenggung. Dua tahun lalu, gelarnya meningkat menjadi Kanjeng Raden Tumenggung.

Kini, Empu Bandi bersama sejumlah empu lain masih setia mengikuti berbagai pameran keris. Mereka tak kenal lelah berkeliling dari Solo, Semarang, Yogya, Bandung, Madiun, Magetan, Gresik, sampai ke Bali.

Sumber : Kompas, Kamis, 16 Agustus 2007

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks