May 31, 2009

Neles Tebay : Bangunlah Papua dengan "Dimi"

Tebay: Bangunlah Papua dengan "Dimi"
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty dan Rudi Badil*

"Itu salah kalau belum apa-apa sudah bilang ada hambatan kultural pembangunan di Papua!" ujar Dr Neles Tebay, pastor sekaligus pengajar pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur di Abepura, Jayapura, Papua, pertengahan Agustus.

"Bagaimana Anda membuat program dan merangsang orang Papua terlibat dalam pembangunan, sementara setiap suku bangsa dengan budaya dianggap hambatan. Kalau sudah tidak ada kepercayaan, Anda tidak akan mau belajar budaya itu. Lalu, hanya akan mencari yang jelek-jelek untuk mengatakan budaya Papua itu jelek," tuturnya mengingatkan.

Sebagai anak asli suku Mee yang lahir di Kampung Goodide, Kecamatan Kamuu Utara, Nabire, Neles yang meraih gelar doktor filsafat pada 2006 di Roma, Italia, dalam perjalanan hidupnya mengalami proses kulturisasi dan sosialisasi dengan warga, penduduk, suku bangsa, bahkan berbagai macam bangsa.

"Tidak ada bedanya sebab setiap orang punya sikap dan perilaku budayanya sendiri," ucapnya.

Neles pun memberi contoh soal koteka, sejenis selongsong kulit labu kering yang menjadi penutup batang kelamin lelaki, sebagai kasus "budaya lokal" yang dianggap jelek oleh sebagian orang.

"Barang itu penis gourd, penutup kemaluan. Ini jelas karya lokal genius nenek moyang saya. Itu busana lelaki dari Pegunungan Tengah Papua. Kenapa harus jadi ukuran hambatan dan disebut-sebut sebagai lambang zaman batu dan penghambat kemajuan?" tutur dia mempertanyakan.

"Saya baru lepas koteka saat masuk asrama SMP YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) di Waghete, yang jaraknya sehari jalan (kaki) dari kampung. Tahun 1977 sampai 1979 saya baru bergabung dengan teman-teman sesuku Mee dari kampung lain. Di situ saya mulai bersosialisasi sambil bersaing," tuturnya.

Ia terkenang betapa dirinya pada tahun 1980 harus terkaget-kaget saat pertama kali naik pesawat udara serta naik kapal laut, dan muntah-muntah dari Nabire ke Jayapura. Ia juga baru tahu rasanya menumpang truk dari pelabuhan ke asrama.

Mengenal dan melebur diri sebagai warga kota besar, Neles yang ketika itu juga baru mengenakan sepatu terkenal jago matematika dan bahasa Inggris. Pada saat sama ia paham makna "cari hidup" sebagai tenaga upahan memotong rumput dan membersihkan halaman rumah.

Lulusan SMA Gabungan Jayapura tahun 1982 ini pun makin tertempa ketika menjadi mahasiswa STFT dan lulus pada 1990. "Saya mengenal dan bergaul dengan teman-teman dari luar Papua."

Sikap resiprokal

Sebagai anak komunitas suku Mee yang baru "terbuka" dengan pendatang pada 1930-an, Neles menyebutkan "kekagetan" itu bukan berdampak buruk. Sebagai pastor Mee yang meraih gelar master (MA) dari Filipina tahun 1997, Neles meyakini pengaruh ajaran lisan nenek moyangnya perihal konsep dimi atau semacam pandangan hidup yang mengungkung pikiran dan rasa diri setiap manusia hidup.

"Setiap orang punya dimi meski kadarnya berbeda. Hargai orang lain dengan dimi masing-masing, tidak usah ada cemooh dan beda-membedakan. Kami terlatih dengan budaya egaliter sehingga jauh dari rasa inferiority. Kalau orang lain bisa bikin rumah dan banyak harta, kami pun bisa karena kita sama-sama punya dimi," tutur Neles, yang juga wakil suku bangsa Mee, salah satu dari 271 suku bangsa di Papua.

"Dimi yang bikin orang Mee dan saya selalu pede atau percaya diri," katanya.

Justru persoalan yang muncul adalah perihal ketidakpastian hukum. "Itu persoalan sekarang. Bagaimana koruptor bisa dibiarkan hidup bebas, sementara pencuri ayam dihajar habis-habis. Logikanya di mana? Itu pikiran orang Mee. Seharusnya semua tunduk pada hukum karena saya punya dimi, seharusnya pak dorang pun punya dimi," katanya menegaskan.

Tanpa itikad mengatasnamakan suku Papua lain, Pater Tebay, panggilannya, memberikan empat nilai fundamental sukunya.

"Keempat nilai itu adalah hidup berkelimpahan, komunitas, hubungan serasi, serta asas timbal balik atau resiprokal. Semua unsur itu harus saling berkaitan," ujar rohaniwan, penulis buku, kolumnis koran dan majalah, juga koresponden harian The Jakarta Post 1998-2000 ini.

Hidup berkelimpahan dari kebun, hewan peliharaan, serta sungai dan hutan merupakan kebutuhan hidup setiap orang. Selain itu adalah keluarga dengan anak-anak yang sehat. Hidup dalam hubungan berkomunitas antarmanusia dengan keserasian alam lingkungan, lanjutnya, tak lepas dari bantuan roh suci leluhur.

"Sikap resiprokal justru mengukuhkan hubungan antarwarga dan komunitas. Ini termasuk juga menghormati hubungan dan berperilaku bagus terhadap alam. Misalnya, kalau orang mengotori sungai dan merusak lingkungan, akan mendapat balasan (sungai) banjir. Kami diajarkan nenek moyang untuk melibatkan bantuan roh leluhur. Hutan, pohon besar, batu alam, gunung, dan benda alam lain juga bagian dari sistem alam lingkungan kami. Itu konsepsi kehidupan, environment dan habitat," ucap Tebay, yang dikenal sebagai tokoh akademisi yang mengkritisi pembangunan di Papua ini.

"Makanya jangan merasa aneh kalau orang Amungme, Damal, Kamoro, juga Mee sempat bergejolak sewaktu PT Freeport Indonesia masuk, ambil-ambil material tambang dan merusak wilayah pegunungan. Padahal, gunung dan alam diyakini sebagai suatu kesatuan dengan masyarakat suku setempat," ucap Neles, yang sejak Mei lalu menjadi pejabat tinggi Keuskupan Jayapura.

Sementara menunggu-nunggu perkembangan Papua, Neles dengan menebar senyum lebar menegaskan, janganlah dipakai alasan budaya sebagai penghambat. Bangunlah Papua dengan dimi daripada ribut-ribut dan saling hambat-menghambat, tara bae. Baik!

* Rudy Badil, Wartawan Tinggal di Jakarta

Sumber : Kompas, Senin, 20 Agustus 2007

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks