Jun 5, 2009

Sulasikin Murpratomo : Saya Tidak Pernah Menyerah

Saya Tidak Pernah Menyerah
Oleh : Ninuk M Pambudy dan René L Pattiradjawane

Ketika Senin (16/4) selepas magrib kami bertemu di rumahnya di Jalan Ciasem, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sulasikin Murpratomo baru berbuka puasa. Puasa Senin dan Kamis terus menjadi bagian kehidupannya sejak muda hingga usianya yang hari ini genap 80 tahun.

Dia mengenakan kain, kebaya, dan selendang, pakaian yang menjadi ciri khasnya. Kondenya besar. Secara lahiriah dia mengggambarkan perempuan Jawa, tetapi pikiran dan tindakannya melampaui identitas yang ditunjukkan busananya.

Kesibukan utamanya saat ini mengurusi Yayasan Amal Bakti Ibu (YABI), di mana dia menjadi ketua umum. "Ini tabungan akhirat saya," katanya.

Risau melihat kekerasan di ruang publik dengan menggunakan alasan etnis, ras, suku, dan agama, melalui YABI Sulasikin membuat kegiatan yang mengajarkan budaya damai kepada anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).

Kegiatan ini melatih guru TK, SD, pesantren, dan ibu-ibu untuk mengajarkan ke murid dan anak-anak konsep hidup damai antarsuku, etnis, agama, lapisan sosial, cinta Tanah Air, kebersamaan, dan tolong-menolong.

"Untuk anak TK melalui tari dan nyanyi, untuk usia SD ditambah menggambar bersama," katanya. "Kami sudah memiliki modul."

Berada di delapan provinsi di Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan, YABI yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional sudah melatih ribuan guru.

"Kami biasanya juga memberi beasiswa, tetapi belakangan tidak ada dana," tutur Sulasikin yang mengajak tokoh masyarakat dan perguruan tinggi lintas agama terlibat dalam YABI.

Sebagian anak-anak itu akan menyanyi pada peringatan HUT Ke-80 Sulasikin yang diadakan tiga anaknya serta teman-teman di Jakarta, Minggu (22/4). Pada hari itu juga diluncurkan biografi terbarunya. Sedangkan hari ini dia diberi acara kejutan oleh teman-temannya di YABI.

Hidup yang mengalir

Orang mengenal Sulasikin sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (Menneg UPW) periode 1988-1993, setelah pada periode sebelumnya sempat menggantikan Lasijah Soetanto. Dia juga dikenal sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar (1998-2003) dan menjabat Ketua Umum DPP Kowani (1978-1983, 1983-1988).

Perjalanan hidup Sulasikin tidak mengikuti pola tertentu. Ayahnya yang pejabat di Kementerian Agama menginginkan Sulasikin menjadi guru walaupun sebetulnya dia ingin kuliah hukum dan menjadi Mesteer in de Rechten.

Setamat Frobel Kweekschool tahun 1945, pada usia 18 tahun orangtua Sulasikin, R Hardjodipuro dan Rd Nganten Iskiatin, mendorong Sulasikin menikah dengan R Moerpratomo, yang masih kerabat. Kepatuhan pada orangtua membuat Sulasikin menerima pernikahan itu meskipun dia mempertanyakan pernikahannya yang mengikuti pola tradisional: suami mencari nafkah dan istri mengurus rumah tangga.

Keadaan berubah ketika ayah Sulasikin meninggal tahun 1948. Ibu, kakak, dan empat adik-adik Sulasikin tinggal bersama Sulasikin. Kemudian tiga anak pun lahir setelah anak pertama meninggal pada usia enam bulan.

Meskipun harus membagi waktu antara bekerja sebagai guru TK dan mengurus anak-anak dengan bantuan ibunya, Sulasikin tetap ingin menggapai mimpi lama: kuliah dan menjadi sarjana.

Dia bersekolah lagi menamatkan SMA dan belajar Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Pada tahun 1952 itu pula dia mulai terjun ke dunia perjuangan perempuan dengan masuk ke Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) Ranting Senen. Perjuangan ini dia teruskan ketika bergabung dalam Golkar dan saat menjabat Menneg UPW.

Kebutuhan ekonomi yang tidak dapat dicukupi dari penghasilan suaminya yang pegawai negeri mendorong Sulasikin mencari kerja. Dana Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak- anak (Unicef) menerimanya.

Bukan hanya mendapat penghasilan lumayan, Unicef juga melatihnya membuat perencanaan, anggaran, evaluasi, dan pemantauan. Di situ dia juga memahami birokrasi departemen yang jadi mitra Unicef.

"Karena itu, ketika saya diangkat sebagai Menteri UPW dan ada yang meragukan pengetahuan saya mengenai birokrasi, saya diam saja. Kemudian baru mereka mengakui," kata Sulasikin yang 25 tahun bekerja di Unicef.

Energi

Sumbangan pentingnya sebagai Menneg UPW antara lain mendirikan Pusat Studi Wanita (PSW) di berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia, menambah PSW yang ada di UI dan Institut Pertanian Bogor.

Pengalaman di Unicef membuat analisis data untuk memahami suatu keadaan dia terapkan di Kementerian UPW. Berbagai riset dan analisis data tentang perempuan dia sajikan kepada Presiden untuk menunjukkan ketertinggalan perempuan.

Strategi lain adalah merangkul mereka yang memiliki posisi pengambil keputusan untuk membantunya, antara lain Bappenas dan Departemen Keuangan. Alhasil, anggaran departemennya yang waktu itu semula hanya Rp 272 juta—"Sama besar dengan anggaran direktorat departemen lain," kata Sulasikin—naik 300 persen.

Karena tidak punya tangan ke daerah, dia merangkul Departemen Dalam Negeri dan menjadikan wakil gubernur sebagai Ketua Tim Pengelola Peningkatan Peranan Wanita dan sekwilda sebagai ketua tingkat kabupaten. "Kalau yang memerintahkan wakil gubernur, instansi lain pasti segan," alasan Sulasikin.

Tentang energinya yang seakan tidak pernah habis, Sulasikin mengatakan itu karena nasihat ibunya untuk kerja keras, lebih baik memberi daripada menerima, dan memberi pun yang banyak, bersyukur, dan kasih kepada sesama.

Resep awet sehatnya adalah sejak muda dia tidak pernah tidur siang dan selalu makan sekadarnya. Puasa Senin-Kamis, mutih (hanya makan nasi tanpa bumbu dan lauk serta minum air putih), serta puasa hanya makan buah dan sayur adalah bentuk tirakat rutin.

"Saya tidak pernah menyerah. Bila sudah saya putuskan, akan saya usahakan sampai berhasil," katanya. Dan, Sulasikin selalu berbuat sesuai yang dia ucapkan dan itu sudah dia buktikan dalam 80 tahun usianya.

BIODATA

Nama: Anindyati Sulasikin Murpratomo
Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 18 April 1927

Keluarga:
Suami: R Moerpratomo
Anak-anak: Almarhum Anindita Handayani, Reni Swasti, Peni Susanti, dan Ibnu Pratomo yang memberi lima cucu dan satu cicit.

Pendidikan: Hollandsch Inlandsche School (1941), Frobel Kweekschool (1945), Sekolah Menengah Atas (1951), Fakultas Sastra UI (1956), dan pelatihan di UN Asian Institute Training on Social Development and Planning (1970).

Karier:
-Guru TK, SD, SMA (1945-1956)
-Wakil Ketua Cabang Perwari Matraman (1953-1956)
- Programme Officer Unicef (1958-1983)
- Ketua Umum DPP Kowani (1978-1988, dua periode)
- Anggota DPR/MPR (1982-1987)
- Menneg Urusan Pemberdayaan Wanita (1988-1993)
- Ketua DPP Golkar (1983-1988), Wakil Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar (1998-2003) - Ketua Umum Yayasan Amal Bakti Ibu (YABI)
- Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (1998-2003)
- Pendiri dan Presiden pertama ASEAN Confederation of Women's Organisation

Sumber : Kompas, Rabu, 18 April 2007

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks