Jun 9, 2009

Soheib Bencheikh : Bencheikh Ingatkan Esensi Agama

Bencheikh Ingatkan Esensi Agama
Oleh : Luki Aulia

Keinginan untuk memulihkan pandangan masyarakat terhadap Islam dan komunitas Muslim membulatkan tekad mantan Imam Besar (Grand Mufti) Marseille, Soheib Bencheikh (45), untuk mengajukan diri menjadi kandidat calon presiden Perancis pada pemilu 2007.

Saat ditemui Kompas di Universitas Paramadina, Jakarta, pekan lalu, Bencheikh mengaku, citra Muslim akhir-akhir ini dianggap menakutkan karena identik dengan konflik dan kekerasan. Akibatnya, perasaan takut terhadap komunitas Muslim menjadi lumrah. Apalagi, di Perancis yang umat Muslimnya merupakan golongan minoritas.

Bencheikh yakin, ini semata-mata karena masyarakat Perancis tidak kenal betul dengan komunitas Muslim dan esensi agama Islam. Ketidaktahuan yang menumbuhkan ketakutan itu semakin parah ketika terjadi kerusuhan di Perancis tahun lalu. Anggapan yang muncul adalah kerusuhan itu berlatar agama. "(Padahal) tidak ada urusannya dengan agama. Lebih pada persoalan sosial dan ekonomi," ujarnya.

Mayoritas pelaku yang berasal dari pinggiran kota yang miskin menjadi salah satu indikator. Dan kebetulan mayoritas warga pinggiran kota adalah kaum migran yang merasa terpinggirkan. Persoalan sebenarnya ada disintegrasi masyarakat dan pemerintah gagal menangani itu.

"Jika kerusuhan seperti ini terjadi, pemimpin dan tokoh agama tidak akan campur tangan menyelesaikan persoalan. Itu akan membenarkan persepsi kerusuhan itu berlatar agama," kata Bencheikh menambahkan.

Imam besar

Mengantisipasi munculnya konflik berlatar agama sekaligus memperkenalkan Islam, Bencheikh sering terlibat dalam dialog antaragama. Apalagi posisinya sebagai Imam Besar Marseille (1995-2005) memudahkan Bencheikh masuk ke berbagai komunitas agama.

Saat ditunjuk menjadi Imam Besar oleh pimpinan Masjid Agung Paris, Dr Dalil Boubaker, Bencheikh dikenal sebagai teolog Islam muda yang reformis dan antifundamentalisme. Bencheikh selalu mendorong Muslim, di mana saja, agar menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia yang semakin modern. Salah satu caranya dengan membuka diri dan berintegrasi dengan komunitas non-Muslim.

Jika ingin hidup damai di Perancis dengan bebas menjalankan ajaran Islam, Bencheikh mengemukakan, umat Muslim harus belajar menerima kenyataan menjadi golongan minoritas yang diatur undang-undang sekuler. Karena itu, lebih baik Muslim di negara-negara sekuler kembali pada intisari ajaran Islam yang sebenarnya.

Pandangan Bencheikh itu tidak jauh berbeda dengan intelektual Muslim Mesir, Thaha Husein, yang berpendapat bahwa tanpa sekularisasi, umat Muslim tidak akan maju. Sekularisasi adalah pembebasan umat Muslim dari ikatan ajaran agama yang tidak bersifat mendasar dan merupakan produk pemahaman ulama di masa lalu.

Berbeda dengan sekularisasi ala Barat, sekularisasi dalam Islam bermula dari upaya melepaskan diri dari ikatan tradisi untuk kembali pada Al Quran dan Hadis. "Islam tidak bisa lagi diklaim sebagai milik Muslim atau negara tertentu yang hanya ingin memaksakan penafsiran mereka sendiri terhadap Al Quran. Islam itu bersifat universal," papar Bencheikh.

Bencheikh juga berpandangan, tanpa sekularisasi, pemahaman terhadap agama tidak akan berkembang. Berkat sekularisme yang memisahkan agama dari politik, Bencheikh menilai, umat Muslim justru dapat mengembalikan esensi Islam yang sebenarnya dengan tidak terlibat dalam arena perlawanan politik dan perebutan kekuasaan.

"Esensi Islam sama seperti agama lain, intinya menjaga hubungan dengan Tuhan dan manusia. Kita harus saling menghargai dan menghormati pilihan agama dan kepercayaan masing-masing," ujar Bencheikh.

Teologi minoritas

Setelah tidak lagi menjadi imam besar, pria kelahiran Jeddah, Arab Saudi, ini lebih banyak beraktivitas sebagai anggota Dewan Peribadatan Islam Perancis (Counseil Francais du Culte Musulman/CFCM) yang dibentuk tahun 2003. Untuk mengajarkan pemikiran Islam modern, Bencheikh membangun Sekolah Tinggi Kajian Islam di Marseille dan menjadi Presiden Dewan Pemikiran dan Aksi Islam (CORAI).

Sebagai salah satu intelektual Muslim Perancis yang liberal, Bencheikh menilai, Muslim di Perancis harus bisa menciptakan teologi minoritas dan menggali kembali esensi Islam. "Karena saya hidup di Barat, saya akan menafsirkan Islam seperti apa adanya agar saya tidak terpinggirkan," ungkap suami Sanaa dan ayah tiga anak itu.

Bencheikh lulusan Universitas Al-Azhar (Cairo) bidang teologi Islam, Universite Libre de Bruxelles, dan doktor bidang agama dari Ecole Pratique des Hautes Etudes (Paris). Ia menghabiskan masa remajanya di Aljazair, lalu tinggal di Perancis mengikuti sang ayah yang bertugas sebagai duta besar Aljazair di Perancis.

Meski Muslim minoritas di Perancis, Bencheikh mengaku tidak mendapat tekanan dari pemerintah maupun masyarakat. Bahkan, pengalaman hidup di tengah masyarakat sekuler dia ceritakan dalam buku keduanya, Marianne et le Prophete: l’Islam dans la laicite (1998), setelah sebelumnya memublikasikan buku Les Grandes Religions.

Kebebasan beragama yang Bencheikh rasakan di Perancis sesuai dengan ide-ide demokrasi di negara mana pun. Hak-hak individu—baik yang golongan mayoritas maupun minoritas—dijamin dalam undang-undang. Hasilnya, umat Muslim dapat beribadah dengan tenang, bebas, dan tanpa tekanan.

"Dalam lingkungan demokratis, sekuler, dan plural, keimanan seseorang bisa mendalam," ujar Bencheikh yang berharap konsep Islam yang reformis dan liberal bisa berkembang di Perancis dan menyebar ke seluruh dunia.

Sumber : Kompas, Sabtu, 2 Desember 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks