Jun 4, 2009

Jumakir, dari Kurir Menjadi Juragan

Jumakir, dari Kurir Menjadi Juragan
Oleh : Djoko Poernomo

Dalam tempo enam tahun, Jumakir mampu mengubah nasib dari tukang antar bunga kering menjadi juragan aneka barang kerajinan berkualitas ekspor.

Oleh karena itulah, bapak dua anak yang hanya berpendidikan sekolah menengah kejuruan itu kini bisa memiliki kekayaan berupa tanah seluas 200 meter persegi. Di atasnya berdiri bangunan dua lantai senilai Rp 200 juta, masing-masing untuk bengkel kerja dan tempat tinggal.

Semua itu masih ditambah dua mobil serta dua sepeda motor. Tanah seluas 300 meter persegi tak jauh dari lokasi tanah pertama juga baru saja dilunasi. Lebih dari itu, ia juga mampu memberikan pekerjaan kepada 40 pemuda setempat.

"Saya tak pernah bermimpi sedikit pun, kok, bisa seperti ini. Padahal, saya bukan keturunan perajin," tutur Jumakir di rumahnya, Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul, atau arah selatan Kota Yogyakarta.

Ketika ditemui, anak pertama dari seorang petani bernama Madya Utama alias Suwun (76) itu tengah menyelesaikan pembuatan bingkai cermin ukuran 75 cm x 150 cm pesanan warga negara Australia. Jumlah pesanan semuanya 20 buah dan harus dikirim kepada pemesan akhir bulan ini. Mengingat ada pula pesanan lain, Jumakir dan puluhan rekannya harus terjaga hingga larut malam.

Kurus kering

"Sejarah hidup" Jumakir dimulai tahun 1994 ketika ia dinyatakan lulus dari Jurusan Akuntansi Sekolah Menengah Ekonomi Atas Putra Tama, Bantul. "Saya waktu itu kere. Untuk nebus ijazah sebesar Rp 83.000 saja tak ada duit. Jadinya, keluar dari pendidikan formal tanpa membawa ijazah," tutur Jumakir mengawali kisah hidupnya.

Setelah istirahat dari sekolah formal, pemuda kurus itu tak jua mendapat pekerjaan seperti diidam-idamkan. Beberapa bulan kemudian, dia menerima tawaran menjadi kurir di sebuah perusahaan rumahan yang memproduksi bunga kering di Yogyakarta.

"Tugas saya mengantar bunga-bunga ke alamat pemesan dengan menggunakan sepeda onthel. Saya diupah Rp 250 sekali antar," ceritanya.

Meski tak banyak memberi imbalan materi, pekerjaan selaku kurir dilakoninya hingga dua tahun. Dengan alasan capek keliling kota sambil mengayuh sepeda, Jumakir pun pindah haluan dan memilih bekerja pada sebuah pabrik mi di daerah Gamping, Sleman. Berbagai jenis pekerjaan pun pernah dia tangani, sebelum akhirnya bertemu dengan seorang kawan yang lebih dulu membuat aneka barang kerajinan dari kulit kerang.

"Dia mengajari saya cara membuat kerajinan sekaligus memasarkan, termasuk mencari bahan baku," tutur Jumakir tentang pekerjaan barunya.

Waktu itu ia mengawali pekerjaan dengan membuat pigura yang bagian depannya ditempeli kerang. "Ternyata pekerjaan ini memberi penghasilan lumayan. Saya lalu berkonsentrasi penuh di sini," tuturnya.

Setahun sesudah berkiprah pada sektor aneka kerajinan, Jumakir memperoleh bantuan sebesar Rp 5 juta dari PT Pos Giro lewat program kemitraan. Oleh karena dinilai mampu mengelola dana ditambah tertib mengangsur, setahun berikutnya ia kembali dipercaya PT Pos Giro. Kali ini dana yang dikucurkan sebesar Rp 10 juta. Saat itu pula Jumakir memproklamasikan "perusahaan" dengan nama Zulfi Natural, diambil dari nama anak pertamanya.

Namun, kesialan menimpa Jumakir. Menjelang menerima bantuan tahap ketiga sebesar Rp 75 juta, proposal bersama satu lembar surat tanah yang disimpan di dalam mobil hilang tercuri. "Jadinya saya batal menerima bantuan sebesar itu. Surat tanah pun urung saya serahkan kepada bank, wong hilang," ungkap Jumakir.

Kejadian itu membuat Zulfi Natural "hanya" tercatat memiliki pinjaman sebesar Rp 25 juta dari sebuah bank pemerintah. Dengan uang inilah, Zulfi Natural terus berkiprah.

Tergantung orang lain

Dalam hal pemasaran, sebagian produk aneka kerajinan Zulfi Natural sangat bergantung pada orang lain. Jumakir memberi contoh, bingkai cermin ukuran 42 cm x 42 cm dijual kepada seorang pedagang di Jakarta seharga Rp 31.000 per buah. Tetapi, katanya, pedagang tersebut menjual barang serupa ke Amerika Serikat seharga Rp 200.000 per buah.

"Selama tahun 2006, pedagang itu memperoleh keuntungan dari saya sekurangnya Rp 750 juta. Padahal, dia juga mengambil barang dari tempat lain," kata Jumakir sambil menghela napas panjang. Meski demikian, ia tak menyesal. Alasannya, besar kecil rezeki sudah ada yang mengatur.

"Kalau saya diberi keuntungan dari harga jual yang Rp 31.000 itu, ya itulah uang yang saya nikmati," ucap Jumakir pasrah.

Seorang temannya pernah ngotot agar barangnya dibeli sama seperti harga jual untuk Amerika Serikat. Akibatnya, si pedagang mengambil barang dari perajin lain sehingga perajin yang dia ceritakan itu tak memperoleh order sedikit pun. Dalam hal ini Jumakir menyadari rendahnya posisi tawar para perajin yang banyak bertebaran di Bantul dan Yogyakarta.

Target pencapaian usahanya memang tak muluk-muluk. Namun, Jumakir bisa menjadi gambaran sosok tekun sekaligus ulet yang tak hanya mengandalkan keampuhan ijazah semata. Tanpa banyak slogan dan janji, lapangan kerja bagi para tetangganya pun bisa dia ciptakan, termasuk memberikan bantuan untuk para korban gempa 27 Mei 2006.

Identitas ZN-01 sampai ZN-107

Jumakir terus menekuni jenis pekerjaan yang menjadi pilihan hidup. Untuk mempermudah konsumen, ia baru saja membuat buklet berisi gambar-gambar semua produk yang diberi identitas dan nomor dari ZN (singkatan Zulfi Natural)-01 sampai ZN-107.

Dengan demikian, selama berusaha dalam sektor aneka kerajinan ini, Jumakir mampu membuat 107 jenis barang. Jika percobaannya berhasil, akhir bulan ini produknya bisa mencapai 120 jenis, mengingat beberapa di antaranya masih dalam taraf uji coba.

Di halaman pertama buklet juga tercantum macam-macam order, antara lain aneka bingkai, aneka jam kerang, macam-macam lilin dan cermin, dan suvenir pernikahan. Tertera pula alamat bengkel kerja dan ruang pajang, berikut nomor rekening banknya.

Sumber : Kompas, Sabtu, 26 Mei 2007

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks