Jun 5, 2009

Dirjo Sugito : Bu Dirjo, Pelestari Batik Bantul

Bu Dirjo, Pelestari Batik Bantul
Oleh : Djoko Poernomo

Meski berada di belakang toko material dan berdampingan dengan kios minyak tanah, toko batik bantul milik Ny Dirjo Sugito di Dusun Pijenan, Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, atau sekitar 15 kilometer selatan Kota Yogyakarta, tak pernah sepi pembeli.

Mereka merubung Ny Dirjo di tengah toko seluas 6 meter x 8 meter sambil menunjuk kain batik di dalam etalase. Di bagian toko yang lain tampak serombongan ibu duduk bersimpuh beralaskan karpet dengan tumpukan produk batik di depannya.

Pemandangan seperti ini nyaris terlihat setiap hari dari pukul 08.00 hingga 16.00. Pengunjung bukan hanya datang dari Bantul dan sekitarnya, tetapi banyak pula yang berasal dari kota-kota lain, seperti Jakarta. Mereka memburu batik bantul yang memiliki ciri khas, terutama dalam motif serta pewarnaan.

Ny Dirjo Sugito (73), ibu dari 7 anak dan nenek 14 cucu ini, adalah perajin sekaligus penjual batik bantul yang masih berkibar hingga kini.

"Pada saat ramai, seperti tanggal muda dan habis panen, sehari bisa memperoleh Rp 1 juta," tutur Ny Dirjo. Batik bantul Bu Dirjo juga mengisi toko-toko di Yogyakarta serta dikulak para bakul di Pasar Beringharjo.

Berusaha batik sudah dilakoninya selama 40 tahun tanpa putus. Malah ia bisa disebut sebagai salah satu "tokoh" pelestari batik bantul.

"Dulu saya jajakan batik dari rumah ke rumah di Yogyakarta bersama Bapak. Kami berboncengan sepeda motor. Sehari belum tentu laku satu lembar. Kalau sudah begini, hati saya ngeres...," tutur Ny Dirdjo mengisahkan awal perjuangan menjual kain batik tahun 1960-an. Kini batik bantul dari Bu Dirjo menjadi buruan orang.

Belakangan toko batik bantul ditangani Ny Dirjo dibantu salah satu cucu, Shinta Kartikasari (27). Sebelumnya, toko ini hanya menempati separuh rumah keluarga. Namun, karena dagangan menggunung, toko pun diperluas.

Selain berfungsi sebagai toko, di bagian lain bangunan juga terdapat bengkel untuk 40-an orang. Mereka bekerja di bagian batik tulis, umumnya perempuan, dan yang mengerjakan batik cap sebagian besar kaum lelaki. Puluhan orang lain bekerja di rumah masing-masing, dengan bahan baku disediakan Ny Dirjo.

Pewarna alam

Produk batik semakin berkembang, baik bahan baku, pewarnaan, apalagi motif-motifnya. Namun, belakangan para penggemar batik, terutama dari luar negeri, lebih tertarik pada batik yang diwarnai dengan pewarna alam, bukan pewarna kimiawi.

Para pembatik di Bantul, termasuk Ny Dirjo, umumnya tetap bertekad menggunakan pewarna dari alam yang bahan-bahannya diambil dari tumbuh-tumbuhan. Mereka menghargai pewarnaan batik dengan menggunakan unsur alam yang menghasilkan warna lebih alami, wajar.

Mengenai keunggulan cara pewarnaan batik bantul, menurut Ny Dirjo, cara yang ia gunakan agak berbeda dengan yang dipakai perajin batik lain pada umumnya.

"Pembatik-pembatik di Yogya biasanya menggunakan wadah untuk mencelup atau menggodok kain yang telah diberi pewarna dengan jading yang terbuat dari tanah liat. Kalau di Bantul, kami menggunakan kenceng logam kuningan sehingga daya rekat dan pewarna jauh lebih awet dan kuat, tidak cepat pudar," tuturnya.

Seperti pembatik pada umumnya, alat yang utama digunakan adalah canting. Canting terbuat dari tembaga serta bercerat atau bermulut dengan fungsi untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna.

Sebelum pembatik melukiskan lilin panas di atas kain mori putih, banyak langkah yang harus dilalui. Setiap kali hendak diberi warna, bagian-bagian kain mori yang tak boleh kena zat warna tertentu harus ditutup lilin. Pada tahap akhir lilin dibuang dengan cara merebusnya dalam air mendidih.

Ny Dirjo biasa menggunakan kain mori, baik untuk batik tulis maupun cap. Jenis kain mori ada tiga, yaitu mori prima metres, mori primisima, dan mori dolbi dengan rentang harga dari Rp 8.000 sampai Rp 12.500 per meter. Sedangkan kain sutra berharga sekitar Rp 45.000 per meter.

Setelah diolah menjadi batik cap, harga kain itu menjadi sekitar Rp 55.000 per lembar ukuran lebar 115 cm dengan panjang 2 meter atau 3 meter. Sementara itu, apabila kain diolah menjadi batik tulis, harganya sekitar Rp 90.000 per lembar dan hampir dua kali lipat jika ditulis secara halus.

Meski sekadar usaha "rumahan", Ny Dirjo setidaknya sudah membuka peluang kerja bagi puluhan orang. Pekerja di bagian pengecapan, misalnya, berpenghasilan sekitar Rp 4.000 untuk setiap lembar batik yang dikerjakan. Adapun pekerja untuk batik halus Rp 7.500 per lembar.

"Saya sekarang punya koleksi cap sekitar 200 motif batik, " tuturnya sambil menyebut motif-motif batik bantul, seperti sido mukti, sido luhur, liris, klitik, wahyu tumurun, galaran, grinsing, cepot, bali onde, winarnan, nitik, dan capit.

Salah satu kekhasan batik bantul adalah banyak bagian kain yang dibiarkan berwarna putih atau warna asli kain. Sedangkan motif yang digunakan umumnya mengambil inspirasi dari dunia flora.

Meski di permukaan seakan tak ada masalah dengan pelestarian batik bantul, sesungguhnya semakin hari pengusaha batik seperti Ny Dirjo mengalami kesulitan mendapatkan pekerja yang mampu mengerjakan batik tulis halus. Pembatik yang sudah ada kini pun umumnya sudah berusia lanjut.

Warisi Keahlian Nenek

Ny Dirjo Sugito mewarisi keahlian membatik dari neneknya, Ny Setro Setomo. Keahlian ini ia dapat sejak masih lajang dan dia genggam erat sampai menikah dengan Mukijo, pemuda setempat.

Pada masa awal pernikahan, Mukijolah yang mengantar Ny Dirjo berjualan di Kota Yogyakarta. Karena beban urusan keluarga, Ny Dirjo "mengundurkan diri" dari gelanggang berdagang di Yogyakarta. Ia kemudian membuka toko di rumah, di dekat Pasar Pijenan, Pandak, Bantul.

Dari tujuh anak Ny Dirjo, dua di antaranya laki-laki, hanya dua anak yang mengikuti jejaknya berjualan kain batik, yakni Rina Astuti di Denpasar dan Rini Astuti di Jakarta. Cucu tertua, Ita, nama panggilan Shinta Kartikasari, "bertugas" menemani sang nenek di Bantul. Ny Dirjo berharap Ita mau meneruskan usaha batik bantul di tempatnya kini.

Sumber : Kompas, Rabu, 25 April 2007

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks