Jun 15, 2009

Atmo Suwito Rasban : Atmo, Membebaskan Peternak dari Tengkulak

Atmo, Membebaskan Peternak dari Tengkulak
Oleh : M Burhanudin

Berbagai profesi pernah dijalani pria kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 10 September 1969, ini sebelum dia kembali ke desanya, Desa Pakijangan, Kecamatan Bulukumba, Brebes, untuk terjun total sebagai peternak itik.

Ia pernah menjalani berbagai profesi, mulai dari aktivis lembaga swadaya masyarakat, peneliti sosial, jurnalis, hingga manajer perusahaan, sebelum memutuskan menjadi peternak itik. Misi utamanya adalah membebaskan peternak di kampungnya dari jerat tengkulak.

Atmo Suwito Rasban, demikian nama lengkap pria yang akrab disapa Mas Atmo itu oleh tetangganya. Beternak itik bukanlah hal baru bagi lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) Yogyakarta ini. Keluarga dan tetangga kanan-kirinya di Brebes sudah lama menjadi peternak itik.

Meski demikian, keputusannya untuk menjadi peternak bukan semata sebagai upaya meneruskan tradisi. Jalan panjang telah ditempuhnya sebelum keputusan itu dia ambil sekitar dua tahun silam.

Cakrawala berpikir Atmo tentang perlunya pemberdayaan peternak kecil mulai tumbuh sejak ia lulus SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta tahun 1985. Kala itu ia terpilih sebagai salah satu siswa yang ikut dalam program pertukaran pelajar Indonesia-Amerika.

"Saya di Amerika tinggal di Missouri. Dekat dengan Sungai Missouri dan Mississipi. Saat melihat sungai itu, saya sadar betapa sungai-sungai di sini begitu hidup. Airnya jernih dan ekosistemnya tak terganggu. Masyarakat sekitarnya pun memperoleh manfaat yang besar. Berbeda sekali dengan di Indonesia," ungkapnya.

Teringatlah dia akan Sungai Pakijangan yang mengalir di desanya. Begitu banyak warga yang bergantung kepada sungai tersebut. Bukan hanya untuk mengaliri sawah, tetapi juga untuk menggembala itik. Sebuah tradisi yang sering ia lakoni waktu kecil.

Tebersit dalam benak Atmo remaja untuk mengembangkan peternakan itik yang lebih maju dan ramah lingkungan di sepanjang Sungai Pakijangan. Harapannya semakin membara melihat ketidakberdayaan para peternak itik yang ada di sepanjang sungai dari cengkeraman para tengkulak yang bertindak laksana rentenir.

"Para peternak di sini sangat kekurangan modal dan tak memiliki akses apa pun ke bank. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan swasta. Ini membuat hampir semua peternak itik di sini jatuh ke tangan tengkulak. Mereka dipinjami uang, tetapi harus mengembalikan dengan telur itik yang dihargai sangat rendah," ujarnya.

Pola yang diterapkan tengkulak tersebut membuat peternak di sepanjang Sungai Pakijangan tak berkembang dan makin miskin, sementara perhatian dari pemerintah kurang.

Selepas lulus dari FE UII tahun 1996, Atmo belum bisa langsung mewujudkan obsesinya itu. Ia memilih mencoba sejumlah profesi yang ia harapkan bisa memberinya pengalaman lebih, khususnya dalam hal pengembangan ekonomi kerakyatan.

Manajer program pada Institute for Social Transformation (Insist) pernah ia jalani. Selama dua tahun. Pada tahun 1999 ia kembali ke Brebes dan mendirikan Brebes Pos. Namun, tabloid mingguan ini hanya berumur setahun. Ia lalu pergi ke Jakarta untuk bekerja di sebuah harian ekonomi di Jakarta tahun 2001-2002. Setelah menjadi jurnalis ekonomi, Atmo kemudian bekerja menjadi manajer di sebuah perusahaan swasta. Namun, itu hanya berlangsung 1,5 tahun.

Merintis kelompok petani

Akhirnya, pada tahun 2004, ia mantap memutuskan pulang ke desanya untuk mewujudkan obsesinya memberdayakan peternak itik di Brebes, khususnya di sekitar Sungai Pakijangan.

Selain beternak, Atmo juga aktif merintis berdirinya Kelompok Tani Ternak Itik Adem Ayem, Brebes. Melalui kelompok tersebut, para peternak mendapatkan penyuluhan dan bantuan teknis cara beternak yang baik, serta kemudahan mendapatkan pakan.

Bersama seorang kakaknya, Atmo juga mendirikan Koperasi Ternak Adem Ayem. Koperasi ini berhasil menghimpun 75 peternak itik di Desa Pakijangan yang menjadikan desa tersebut sebagai sentra terbesar peternakan itik di Brebes. "Hanya dengan koperasilah rantai jeratan tengkulak bisa dikikis. Dari sini, peternak bisa mendapatkan bantuan modal dengan cara yang ringan," tuturnya.

Modal yang bisa diberikan koperasi, diakui Atmo, masih relatif kecil, yakni di bawah Rp 1 juta. Cara pengembaliannya adalah dengan menjual telur itik yang harganya setara dengan harga pasar dengan selisih harga kurang dari Rp 20 per butir. Ini membuat peternak di desa tersebut lambat laun bisa lebih bernapas lega. Rata-rata jumlah itik mereka pun meningkat dari semula antara 300 sampai 400 ekor menjadi 500 sampai 600 ekor.

"Kami berharap ada bantuan modal berbunga ringan dari pemerintah karena tidak mungkin bagi peternak kecil seperti kami untuk mengakses modal ke bank dengan tingkat bunga antara 16 sampai 24 persen," paparnya.

Meski ketergantungan kepada tengkulak sedikit demi sedikit bisa dikurangi, Atmo mengakui masih banyak hal yang belum terwujud dari obsesinya. Selain mencarikan akses modal, ia juga terus memendam obsesinya untuk menjadikan Sungai Pakijangan sebagai sentra pengembangan sejuta itik, tetapi tetap menjaga kelestarian sungai itu. Sebuah obsesi yang pernah tebersit di benaknya kala menyusuri Sungai Missouri sekitar 20 tahun silam.

Sumber : Kompas, Selasa, 15 Agustus 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks