Jun 26, 2009

Ali Sucipto : Persembahan Terakhir Sang Juara

Persembahan Terakhir Sang Juara
Oleh : Nasrullah Nara

Bangsa Indonesia pantas berterima kasih kepada lima pelajar SMA yang merebut dua medali emas dan tiga medali perunggu dalam Olimpiade Fisika Internasional, 3-12 Juli lalu di Salamanca, Spanyol. Prestasi mereka membuktikan Indonesia belum habis.

Dalam ajang yang diikuti 340 pelajar dari 76 negara, Indonesia menjadi negara yang disegani dalam kompetisi sains. Berdasarkan perolehan medali, Indonesia unggul atas Amerika Serikat, Jerman, Australia, dan Vietnam yang masing-masing meraih satu emas. Posisi Indonesia sejajar dengan Iran, India, dan Korea (dua emas). Posisi teratas ditempati China dan Taiwan (lima emas), disusul Rusia (empat emas), dan Hongaria (tiga emas).

Dua emas untuk Indonesia disumbangkan oleh Andika Putra (SMA Sutomo 1 Medan) dan Ali Sucipto (SMA Xaverius 1 Palembang). Adapun medali perunggu diraih oleh Purnawirman (SMA Negeri 1 Pekanbaru), Michael Adrian (SMA Regina Pacis Bogor), dan Ario Prabowo (SMA Taruna Nusantara Magelang).

Prestasi yang diukir anak bangsa tersebut menjadi penyejuk kalau mengingat nasib bangsa ini sekarang yang terengah-engah dalam berbagai krisis.

Medali terakhir

Lima medali tersebut persembahan terakhir dari mereka sejak berkecimpung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia satu-dua tahun lalu. Mereka bergabung dalam tim olimpiade fisika sejak duduk di kelas I dan II. Tahun ini, kecuali Andika, mereka sudah tamat SMA. Ajang olimpiade fisika hanya terbuka bagi siswa SMA.

Ali, Purnawirman, Michael, dan Ario sudah mendapat tiket gratis untuk kuliah di Nanyang Technological University, Singapura. Setelah melepas kerinduan bersama orangtua di kampung masing-masing, pekan ini mereka sudah harus terbang ke Singapura untuk mulai kuliah.

Akan halnya Andika, ada satu cerita unik. Remaja kelahiran Medan, 28 Agustus 1988, ini memutuskan ”pensiun dini” dari anggota tim olimpiade fisika. Padahal, tahun depan ia sebetulnya masih berpeluang membela Indonesia untuk olimpiade fisika Asia dan internasional. Bahkan, dengan catatan prestasinya yang kian baik ia sangat potensial meraih lagi medali emas.

Terakhir, di Salamanca, putra dari pasangan Suwardi-Hou Lie Tjhing ini menempati urutan ketujuh dari 10 peraih nilai tertinggi. Ia meraih nilai 48,3. Urutan pertama berasal dari Hongaria atas nama Gabor Halasz (49,5). Urutan keenam yang diraih pelajar dari China, Li Han Han (48,7), hanya beda tipis dari nilai Andika.

Mengapa Andika membuang-buang kesempatan emas itu? ”Beri kesempatan buat anak-anak lain untuk berprestasi,” katanya. Alasan lain, dia ingin berkonsentrasi penuh pada pelajaran di kelas III SMA agar kelak mampu menembus perguruan tinggi terkemuka di Amerika.

Akhir yang gemilang

Dari prestasi di Spanyol itu, satu hal yang patut dicatat, Ali dan Andika benar-benar menutup ”kariernya” sebagai anggota tim olimpiade fisika dengan catatan sangat gemilang. Kemilau medali emas dari tahun ke tahun bisa jadi tak ada bedanya. Tetapi, kali ini, ”nilai karat” medali emas yang diraih kedua remaja tersebut sangat murni.

Menurut para pendamping/pembina tim Indonesia yang terdiri dari Rahmat Widodo Adi, Edi Gunanto, dan Yudhistira Virgus, yang dimoderasikan adalah gabungan antara nilai ujian teori dan eksperimen. Namun, tanpa dimoderasikan pun Indonesia sudah pasti meraih dua emas. Total nilai Andika (48,3) dan Ali (46,6) melewati batas bawah nilai emas (45). Moderasi adalah ajang debat bagi para pembina/pendamping tim untuk mengompromikan nilai batas bawah dan batas atas peraih medali.

Nilai ”karat” emas yang dicapai kali ini bahkan lebih ”murni” dibandingkan dengan tahun lalu. Nilai emas Andika dan Ali lebih tinggi dari daripada nilai emas yang diraih Indonesia dalam olimpiade di Korea tahun 2004. Kala itu, Yudhistira Virgus menyumbang satu medali emas dengan nilai 44,8.

Namun, catatan prestasi Andika dan Ali bukan tak luput dari kegagalan. Dalam Olimpiade Fisika Asia, Mei 2004 di Hanoi, Vietnam, keduanya sama sekali tak mendapat medali. Saat itu Indonesia boleh dibilang gagal total karena satu perunggu pun tak tergapai. Ali hanya bisa membawa pulang honorable mention (penghargaan di bawah perunggu).

Tiga bulan kemudian dalam Olimpiade Internasional tahun 2004, Andika mulai bersinar dengan meraih perak. Ali lagi-lagi harus puas dengan honorable mention.

Menggapai puncak butuh proses dan kerja keras. Inilah beda mereka dibandingkan dengan jutaan remaja lain, yang tergila-gila mengejar popularitas lewat acara ”idol-idol”-an.

Sumber : Kompas, Sabtu, 16 Juli 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks